Pemerintah Jepang agresif dalam membangun energi terbarukan untuk menggantikan tidak hanya energi fosil, namun juga energi nuklir.

“Syukurlah kita hari ini menandatangani kesepahaman untuk CPO high FFA dengan nilai 13,57 juta dolar AS ke Jepang,” kata Ananda Setiyo Ivannanto, CEO PT Awina Sinergi International kepada Tribunnews.com, Senin (29/10/2018).

Energi biomassa menjadi energi terbarukan yang diandalkan oleh pemerintah Jepang karena bisa menjadi penyuplai listrik untuk beban dasar (baseload) secara stabil.

Dan Indonesia mempunyai peranan strategis untuk menjadi penyedia utama bahan bakar tersebut terutama memanfaatkan produk turunan dari kelapa sawit yang merupakan produk ekspor utama dan kontributor Pemasukan Domestik Bruto (PDB) terbesar di Indonesia.

Menurut data Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang, tahun 2030 Jepang akan membangun 24.000 MW pembangkit listrik tenaga biomassa.

Dimana 20.000 MW-nya untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga nuklir dan 4.000 MW pembangkit listrik tenaga biomassa baru.

Setidaknya 4 juta ton senilai 1,46 miliar dolar AS, atau sebesar 10 persen dari total pembangkit baru tersebut akan memanfaatkan bahan bakar cair berbasis kelapa sawit.

Hal ini lah yang mendorong Nanofuel Co. Ltd. untuk mengembangkan teknologi “Nano Bio Fuel” memanfaatkan berbagai produk turunan berbasis kelapa sawit, antara lain Crude Palm Oil (CPO), Palm Acid Oil(PAO), Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), dan RefinedBleached Deodorized (RBD) Stearin menjadi bahan bakar cair.